Tripping Over The Truth (Catatan 1)

Informasi buku:

Judul: Tripping Over The Truth: How the Metabolic Theory of Cancer Is Overturning One of Medicine’s Most Entrenched Paradigms

Kisah Teori Metabolik Kanker Menjungkirbalikkan Paradigma Kedokteran Yang Begitu Mengakar

Oleh: Travis Christofferson

Penerbit: Chelsea Green Publishing

URL


Secara statistik cepat atau lambat masing-masing kita akan bersentuhan dengan tumor atau kanker baik langsung maupun tidak langsung. Dan ketika itu terjadi, kesan yang saya dapatkan adalah betapa sedikitnya pengetahuan kita dan betapa tidak berdayanya kita di hadapan misteri kehidupan terbesar ini. Mirip dengan pengalaman penulis buku ini, saya pun tergerak untuk mengetahui lebih dalam dan juga berusaha mengumpulkan informasi dan membuatnya tersedia dalam bahasa ibu saya.

Christofferson memulai uraiannya sebagai berikut:

Tidak banyak kata-kata yang begitu bermuatan emosional seperti kata kanker. Bagi para ahli biologi kanker, ini adalah sebuah teka-teki yang masih harus dipecahkan; sesosok pembunuh keji dan pesulap yang lihai melepaskan diri dari jeratan. Bagi yang belum terkena imbasnya, ia adalah sebuah abstraksi, sesuatu yang menakutkan tapi terasa jauh. Banyak orang yang memiliki cerita-cerita intim yang terkait dengan kata itu. Sebagian adalah cerita kemenangan, namun kebanyakan adalah sebuah pergulatan melawan musuh yang begitu keras kepala, begitu canggih, dan begitu sulit untuk dihentikan. Sampai hari ini mungkin hal yang paling menakutkan mengenai kanker adalah perasaan tidak berdaya. Kita semua tahu jika si kanker mau menang, kemungkinan besar dia akan menang.

Sejarah kemanusiaan bisa dibayangkan sebagai sebuah cerita penaklukan alam – keberhasilan kita menyediakan kebutuhan makanan, air dan tempat tinggal serta melawan penyakit. Yang terakhir inilah yang meningkatkan harapan hidup kita secara signifikan dibandingkan jaman-jaman sebelumnya. Secara diam-diam kita mengangankan untuk hidup selamanya. Satu per satu hambatannya kita taklukkan seperti penemuan vaksinasi, antibiotika dan lain-lain hingga teknologi seperti stem cell yang diharapkan bisa melawan/menunda proses penuaan. Perusahaan seperti Google pun terlibat dalam angan-angan ini dengan anak perusahaannya California Life Company (CALICO) yang mencanangkan tujuannya memanfaatkan kekuatan superkomputer untuk “melawan proses penuaan dan memecahkan teka-teki kematian”.

Namun sayang kanker tetap berdiri menghadang, seperti musuh yang alot, membingungkan, yang bisa berubah bentuk dan berdaya hancur luar biasa. Bagi Christofferson, buku ini adalah catatan perjalanannya mencari jawaban mengapa pengobatan kanker masih tetap menjadi sebuah misteri. Terapi radiasi, yang masih merupakan salah satu metode utama saat ini, adalah teknik yang ditemukan lebih dari seratus tahun yang lalu.

Mungkin kita selama ini salah memahami asal muasal kanker. Mungkin kanker bukanlah sebuah penyakit genetik. Mungkin kita terus menerus kalah dalam perang melawan kanker karena para ilmuwan mengejar sebuah paradigma ilmiah yang salah, dan ternyata kanker bukanlah sebuah penyakit akibat kerusakan DNA tetapi akibat dari kerusakan metabolisme

Christofferson menemukan ide di atas dalam buku Cancer as a Metabolic Disease karya Thomas Seyfried. Ide awalnya berasal dari seorang ilmuwan Jerman bernama Otto Warburg di tahun 1924. Ide ini tidak pernah mendapatkan sambutan dan dukungan hingga akhir hayatnya, mungkin malah lenyap selamanya seandainya tidak ada Peter Pedersen yang menghidupkan kembali dan meneruskannya.

Ide Warburg adalah:

Sel-sel kanker memilih cara sesat dalam menghasilkan energi. Mereka mempersingkat proses pengubahan glukosa (gula) menjadi energi. Mereka tidak lagi bergantung pada proses pernapasan aerobik yang efisien, menggunakan oksigen untuk memproduksi energi – tetapi malah bergantung pada cara kuno dan sangat tidak efisien yang disebut fermentasi. Di masa akhir karirnya, Warburg berpendapat bahwa inilah asal muasal kanker yang sesungguhnya. Kemampuan sel untuk menghasilkan energi melalui jalur oksidasi telah rusak, dan sel tersebut kembali ke modus fermentasi. Dia bilang, “Kanker, dibandingkan semua penyakit lain, memiliki penyebab sekunder yang jumlahnya tak terkira. Namun, bahkan untuk kanker sekalipun, hanya ada satu penyebab primer. Singkatnya, penyebab utama kanker adalah penggantian respirasi oksigen dalam sel-sel tubuh normal oleh sebuah fermentasi gula.

Seyfried mengembangkan ide Warburg di tahun 2012 dengan menyatakan:

sel-sel kanker mengalami kerusakan organel selular yang disebut mitochondria.

Mitokondria adalah pembangkit energi di dalam sel. Biasanya tubuh hewan dan manusia memiliki 1000-2000 mitokondria. Mereka membangkitkan energi lewat prosesi oksidasi pernapasan. Mitokondria yang rusak tidak bisa menghasilkan energi, lalu demi kelangsungan hidupnya, sel-sel tersebut mengirimkan sinyal darurat ke nukleus (inti sel) untuk menghidupkan generator darurat. Begitu sinyal ini direspon DNA, kondisi sel jadi berubah total. Ia mulai menunjukkan ciri-ciri kanker: pertumbuhan yang tak terkendali, ketidak stabilan (meningkatnya kemungkinan mutasi DNA), mencegah proses kematian sel, dan sebagainya. Ini adalah proses kuno yang terjadi pada awal-awal proses evolusi ketika sel harus hidup dalam kondisi alam yang minim oksigen.

Intinya adalah:

Kerusakan mitokondria terjadi terlebih dahulu, lalu ketidak-stabilan gen, dan kemudian mutasi DNA.

Menurut Seyfried, mutasi DNA yang dianggap menimbulkan dan mengendalikan penyakit tersebut, ternyata hanyalah sebuah efek samping. Namun efek samping ini telah menjadi target perburuan para ilmuwan selama puluhan tahun dan telah menghabiskan berjuta-juta dolar. Ini adalah sebuah klaim berani dan sebagian besar periset menyangkal pernyataan Seyfried ini. Tapi bukankah sejarah manusia penuh dengan contoh-contoh seperti ini, misalnya: Dr. Barry Marshal yang akhirnya mendapatkan hadiah Nobel setelah diejek karena pernyataan nyelenehnya: penyakit maag (peptic ulcer) itu diakibatkan oleh bakteri, bukan akibat dari stress dan makanan yang terlampau pedas atau terlalu asam.

Teori yang diterima sebagian besar ilmuwan saat ini adalah Somatic Mutation Theory (SMT) – Teori Mutasi Somatik. Christoffersen menggambarkan dalam buku ini bagaimana sebuah eksperimen di tahun 1976 berhasil menggabungkan beberapa jalur pembuktian menjadi sebuah teori besar yang menyatakan bahwa asal muasal kanker adalah akibat dari mutasi DNA. Teori yang pernah menjadi momen “eureka”, yang mendapat berbagai pujian dan hadiah Nobel, dan yang menjadi dasar dari berbagai pengobatan yang ada saat ini. Berbagai peluang terobosan baru selalu tampak “sudah dekat”, tapi kenyataannya tidak sampai-sampai.

Salah satu usaha besar yang pernah dilakukan untuk memecahkan misteri ini adalah pemetaan gen kanker (The Cancer Genome Atlas – TCGA) yang dimulai pada tahun 2006 yang didanai oleh National Cancer Institute (NCI).

Kebanyakan peneliti, terutama yang duduk di jajaran pimpinan NCI, percaya bahwa kanker diakibatkan oleh mutasi DNA yang dianggap secara bertahap mengubah hubungan sirkuit penting di dalam sel tersebut — mendorong sel tersebut, selangkah demi selangkah, menjadi pembunuh yang acak, agresif, tak terkontrol dan bersifat menyerang. Jadi untuk memahami kanker secara utuh, seluruh tatanan gen (genome) sel kanker (seluruh DNA di dalam sel tersebut) harus dipetakan, untuk mengidentifikasi dan mendaftar semua “pemicu/pengendali” mutasi DNA. Inilah tujuan dari TCGA.

Proyek ini membandingkan urutan DNA normal dan DNA berbagai tipe kanker untuk menentukan mutasi yang mana yang bertanggung jawab atas mutasi yang mendorong munculnya kanker dan menentukan tingkat keganasannya. Para ilmuwan berharap menemukan sebuah urutan yang teratur dari tiga sampai delapan gen, yang bila bermutasi, akan menghasilkan tipe kanker tertentu. Tapi hasilnya sama sekali tidak teratur. Tidak ada satu gen atau kombinasinya pun yang tampak bertanggung jawab untuk memicu kanker. Mutasi yang teramati pun ternyata berbeda dari satu orang ke orang lain. Pola-pola mutasinya sangatlah acak.

Tingkat kesuksesan obat-obat yang didesain untuk menarget proses mutasi DNA yang diidentifikasi oleh TCGA sangatlah buruk. Kebanyakan obat tersebut mungkin bisa memberikan tambahan waktu hidup beberapa bulan bagi pasien. Sebagian malah tidak ada khasiat apa-apa tapi biayanya mencapai lebih dari 100.000 USD. Syarat yang harus dipenuhi dari Badan Administrasi Obat dan Makanan (Food and Drug Administration) AS sangatlah rendah: cuma harus membuktikan bahwa obat tersebut memperkecil ukuran tumor, tanpa menimbang indikator kesuksesan utama: kelangsungan hidup.

Kenapa obat-obat tersebut gagal? Pertama, TCGA gagal mengidentifikasi pernyebab sesungguhnya dari berbagai jenis kanker. Akibatnya, para periset tidak berhasil menemukan target obat yang benar. Kedua, sebuah pertanda buruk dari TCGA yang tidak menjanjikan akan adanya terobosan dalam waktu dekat. Dari sudut pandang genetik, proses mendesain obat adalah sebuah permainan “petak umpet” yang luar biasa sulit. Target-target mutasi gen itu tidak hanya bervariasi dari orang yang satu ke orang yang lain, tapi bahkan juga bervariasi dari satu sel ke sel yang lain dalam tumor yang sama, yang membuat tugas para ahli farmasi menjadi sangat sulit berhasil.

Implikasi terapeutik dari teori metabolik adalah bahwa setiap jenis kanker bisa diobati, karena setiap jenis kanker memiliki target metabolik elegan yang sama terpampang di punggungnya, tanpa tergantung kepada jaringan asal atau jenis kankernya.

Ketimbang menembak sasaran mutasi yang sedetik ada di sini dan detik berikutnya ada di tempat lain, teori metabolik menempatkan kembali para periset di kursi pengemudi. Ia menempatkan kembali kanker ke ranah penyakit yang mungkin untuk disembuhkan, yang berarti pula bahwa kita tidak mati kutu di hadapan penyakit ini. Teori ini mengembalikan harapan kita.

Posting selanjutnya mengenai buku ini akan berkisah tentang usaha memahami kanker dan penyebabnya, serta berbagai upaya pengobatan seperti kemoterapi, radiasi, 3BP hingga pengobatan berdasarkan teori metabolik.